Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 23 Juli 2013

Anime vs sinetron di mata KPI

Ini hanya Copas dari sebuah postingan yang saya baca di sebuah forum anime Indonesia.
Tidak ada maksud melecehkan atau semacamnya, saya hanya mau membuka pikiran kita semua untuk merenungi dan memahami anime dengan lebih mendalam lagi. Ayo demo dengan cara sebarkan ini… "Suatu saat nanti, aku akan menjadi raja bajak laut!" Tahukah kalian siapa yang pernah berbicara seperti itu? Yep, dialah Luffy, tokoh utama dari serial anime & manga berjudul One Piece. Serial hasil karya mangaka bernama Eiichiro Oda ini sudah menjadi hits di berbagai negara, dan menjadi serial manga & anime paling digemari & dinanti. Meskipun bercerita mengenai bajak laut, One Piece tidak serta merta hanya berisikan pertarungan, kekerasan, maupun peperangan saja. Dari segi cerita, berbagai macam fantasi dan juga imajinasi yang dibagikan oleh Oda sensei melalui guratan tintanya sukses menghipnotis para pembaca manga&juga penonton setia animenya. Banyak sekali unsur positif yang terselip di anime semacam One Piece ini.

Persahabatan, Perjuangan, mimpi, harapan & cita-cita. Melalui anime ini, Oda sensei mengajarkan pada kita mengenai nilai hidup, pesan moral, hingga arti persahabatan&perjuangan. Namun, apa yang terjadi? Komisi Penyiaran Indonesia

pernah melabeli One Piece sebagai salah satu anime yang tidak layak tayang di Indonesia. Well...well... Di postingan ini, saya tidak mengajak kalian untuk bicara soal One Piece kok... Saya cuma mengambil One Piece sebagai contoh saja. Bersama One Piece, ada Naruto, Bleach, Conan, hingga Death Note yang harus menerima cap 'bermasalah' di beberapa stasiun tv kita. Mengapa? Apa yang salah dengan anime-anime itu? Nah, ini dia yang hendak saya bahas disini…

Saya akui, saya bukan yang pertama bicara seputar masalah ini. Hanya saja, jika kalian (termasuk saya) memang menyukai anime, maka sudah sewajarnya kita mulai berpikir lebih kritis lagi mengenai hal ini. Biar saya bercerita sebentar… Suatu ketika, pada saat saya tengah menonton anime (Naruto kalo nggak salah...), datanglah teman saya. Saya persilakan dia masuk, duduk diruang tamu, dan ngobrol sejenak. Ketika dia melihat ke arah layar tv saya, dia lantas nyeletuk seperti ini: "Ngapain kamu nonton kartun beginian? Kayak anak kecil aja..." Yah, saya nggak terlalu bisa mendebat dia saat itu. Tapi, ketika esoknya saya berkunjung ke rumahnya, dia malah lagi nonton sinetron, dimana disitu bercerita tentang pesugihan, dan ada adegan orang lagi berantem dengan laba-laba 3D. What the...? (Kalian tau kan, sinetron yang saya maksud?) Anime & sinetron khas Indo. Menurut kalian, mana yang seharusnya mendapat label 'bermasalah'? Menurut saya, inilah akar dari permasalahan ini…

Di persepsi sebagian besar orang Indonesia, anime dianggap sebagai kartun, yang diperuntukkan bagi anak-anak. Berbagai macam judul dan genre anime yang ada dipukul rata, seakan-akan semuanya itu hanya untuk anak-anak. Sehingga muncul sebuah anggapan bahwa anime memang acara untuk anak-anak. Sebenarnya, tanggapan ini tidak sepenuhnya salah, dikarenakan memang ada banyak anime yang bobot ceritanya ringan, penuh adegan & karakter lucu, dan dipadu dengan animasi warna-warni yang menarik. Khas sekali dengan karakteristik anak-anak usia 6-9 tahun. Hanya saja, tidak semua judul anime seperti itu. Untuk lebih mudah membandingkannya, mari kita ambil beberapa contoh. Lihatlah anime berjudul Doraemon, Minky momo, P-Man, Ninja Hattori, hingga Bakabon. ceritanya ringan, simple, lucu, dan sangat mudah dimengerti. Jelas sekali bahwa anime-anime tersebut diperuntukkan bagi anak-anak.

Kemudian, mari kita tengok judul-judul lain, seperti One Piece, Naruto, Bleach, Dragon Ball, hingga Fairy Tail. Ada adegan kekerasannya, tapi masih dalam tahap wajar. Cerita yang menantang, tegang, dan penuh petualangan. Pasti ini diperuntukkan bagi penonton usia remaja, yang mulai berpikir kritis. Lantas, bagaimana dengan Evangelion, Death Note, Detective Conan, Code Geass, Blood+ hingga Bakemonogatari? Kebanyakan dari anime-anime itu terselip unsur Gore, violent, pembunuhan, jalan cerita yang rumit, hingga terkadang terselip adegan-adegan vulgar. Jelas sekali, mereka tergolong dalam kategori anime dewasa. Inilah dia, satu point penting yang menurut saya diabaikan oleh KPI… Rating!

Di Jepang, semua animesudah tentu dikelompokkan menurut ratingnya. Sehingga, jam penayangannya pun berbeda-beda. Masalahnya, rating tersebut seperti tidak berlaku di Indonesia. Pihak televisi membuat anime tersebut seolah-olah untuk anak-anak. Hal ini bisa dilihat dari jam tayang dan penayangan iklan. Mayoritas anime-anime remaja & dewasa ditayangkan saat jam anak-anak aktif di rumah (minggu atau sore hari) dengan iklan yang juga untuk anak-anak. Hal yang terjadi berikutnya pun sudah bisa ditebak. Bayangkan reaksi seorang ibu,yang tengah menyuapi anaknya di depan tv di hari minggu pagi, dan terbelalak kaget melihat adegan vulgar dianime Ranma 1/2 yang luput sensor. Hal ini sudah pasti akan memberikan persepsi negatif dimata orang tua. Secara sepihak, mereka akan menilai, bahwa anime itu:
1. Penuh dengan unsur kekerasan
2. Merusak moral
3. Porno!
4. Nggak mendidik lah, Nggak bermanfaat lah, dsb...




Padahal, banyak tayangan buatan Indonesia yg jauh lebih tidak mendidik, seperti sinetron, film percintaan remaja juga film horor. Di kala tayangan-tayangan Indonesia tidak mendidik, KPI malah sibuk mengurusi tayangan luar tanpa mengurusi tayangan negeri sendiri (hanya sedikit dari banyak tayangan bermasalah negeri sendiri yangdiurusi KPI). Lantas, siapa yang salah? Pihak stasiun televisi, badan lembaga sensor Indonesia & juga KPI harusnya lebih responsif dan peka mengenai masalah ini. Seharusnya sebelum ditayangkan, anime dikaji terlebih dahulu. Mengenaigenre, dan juga ratingnya (jangan asal sensor melulu...).

Ketika genre & rating sudah ditetapkan, maka baru bisa dipilih jam tayang yang tepat. Tidak sepatutnya anime-anime seperti Ranma, Shinchan, hingga Conan tayang di jam anak-anak. Sudah pasti anak kecil bakalan melongo gak tahu apa-apa ketika melihat conan menjabarkan analisisnya didepan si pelaku. Sudah pasti si Ibu akan kelabakan mendapati tingkah anaknya yang coba-coba menggambar 'si gajah' gara-gara terpengaruh anime Crayon Shinchan. Sudah pasti si anak kecil bakalan meniru adegan-adegan kekerasan ala Naruto. Jika hal semacam ini sudah terjadi, maka cap buruk langsung dialamatkan pada anime yang bersangkutan. Mereka akan menilai anime ini buruk, karena berisi adegan kekerasan, vulgar, pembunuhan, dan lain sebagainya, yang tidak pantas ditonton oleh anak-anak (Halooo? perasaan anime-anime itu emang bukan untuk anak-anak, deh...).

Buntutnya, beberapa judul anime top di Jepang justru tidak masuk, dan dilarang tayang di Indonesia. Sejujurnya saya berpendapat bahwa kualitas serial di Indonesia sendiri tidak jauh lebih baik dari anime bahkan lebih buruk. Saya tidak akan menyebutkan nama, tetapi berulang kali saya selalu melihat beberapa sinetron yang membawa pengaruh negatif terhadap perkembangan otak. Yang ditayangkan kebanyakan adalah percintaan, gaya hidup konsumtif hingga obrolan-obrolan sampah yang tidak berkualitas serta tidak mendidik.

Penyelesaian dari hal ini memerlukan perhatian lebih dari pihak stasiun televisi, dan juga KPI itu sendiri. Dengan penilaian & pengkajian mendalam mengenai judul anime yang hendak tayang, akan memberikan pemahaman & juga memberikan persepsi baru bagi masyarakat awam, bahwa anime tidak seutuhnya untuk anak-anak, dan anime tidak selalu memberikan pengaruh negatif. Selain itu, selalu ada pesan moral yang terkandung dalam sebuah anime. Catat ini! Di hampir semua anime yang sudah saya tonton, selalu terselip nilai-nilai positif, yang benar-benar besar manfaatnya jika bisa diaplikasikan di kehidupan kita. Beberapa sisi positif yang terdapat dalam anime adalah:

1. Anime mengajarkan kita untuk selalu berimajinasi. Imajinasi itu penting! Bahkan, Einstein sendiri berkata bahwa imajinasi jauh lebih penting dibandingkan ilmu pengetahuan.
2. Anime mengajarkan kita bahwa kebaikan akan selalu menang. Klasik, memang. Tapi tunggu dulu... bukankah hal ini patut untuk ditanamkan dalampikiran anak-anak sejak usia dini?
3. Anime mengajarkan berbagai hal penting seperti nilai persahabatan, pengorbanan, kebenaran, hingga perjuangan (terutama dalam meraih cita-cita).


Sedangkan sinetron mengajarkan kita untuk... eeenggg... apa ya? Oh, ya saya ingat. Sinetron mengajarkan kita untuk selalu:

1. Berpakaian tidak rapi disekolah
2. Dugem,&mabok-mabokan.
3. Berantem rebutan pacar.
4. Menjadi ortu jahat bin sadis & gemar menyiksa
5. Percaya pada hal-hal gaib or mistis.
6. Naik Elang 3D kemanapun kita pergi. Hahahaha... 



Menurut kalian, mana yang seharusnya pantas untuk dicap 'bermasalah'? Jadi, sudah paham kan, point-point dari pembahasan kita diatas? Kesimpulannya, Tidak semua judul anime layak untuk ditonton oleh anak-anak. Karena, sebagian merupakan anime yang diperuntukkan bagi pemirsa remaja, sebagian lagi dewasa. Jadi, jangan caci maki orang dewasa yang masih suka menonton anime, karena itu bukan hal yang salah. Selain itu, anime selalu punya nilai moral yang begitu bermanfaat jika diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, jangan mentang-mentang adegannya berantem, jangan langsung men-judge bahwa anime itu tidak bermanfaat.

Ada pesan yang ingin saya bagikepada bapak/ibu sekalian, yang seringkali melarang putra-putrinya untuk menonton anime… Jangan terus-terusan menyudutkan anime, dan mencapnya dengan berbagai hal negatif. Di Indonesia sendiri, banyak sekali acara yang dampaknya jauh lebih negatif jika dibandingkan dengan anime (Mau,saya jabarkan satu-per satu disini?). Dan ironisnya, orang tua kebanyakan justru 'menghalalkan' acara-acara semacam itu untuk ditonton. Jelas, ada yang salah disini.

Lalu, untuk Lembaga negara independen yang bernama Komisi penyiaran Indonesia… Kajilah setiap tayangan dengan lebih mendalam, baik itu tayangan yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Tentukan ratingnya dengan benar (tayangan ini layak ditonton oleh siapa), dan pilihkan jam tayang yang tepatbagi tayangan tersebut. Jika hal-hal yang saya sebutkan tadi sudah dilakukan, maka saya yakin tak akan lagi muncul masalah semacam ini. Terakhir, saya berpesan pada pembaca sekalian… Jika kalian adalah anak-anak, tontonlah anime sewajarnya. Dalam artian, tidak semua judul bisa kalian telan. Untuk beberapa judul, ada baiknya jika kalian minta didampingi oleh orang tua. Jika anda adalah orang tua dan memiliki anak yang hobi menonton anime, maka jangan khawatir. Anime bukan racun bagi anak anda, asal anda selektif, dan paham mengenai nilai moral didalamnya yang bisa diajarkanpada anak anda. Dan, jika andaa dalah orang dewasa yang masih mencintai anime, jangan khawatir. Anda normal. Teruslah berimajinasi, dan teruslah menikmati alur cerita yang tersaji. Sekian dari saya dan terima kasih banyak atas perhatian anda. Semoga ini bisa jadi bahan renungan untuk kita semua

5 komentar:

ryon oshama mengatakan...

mantappppp i like it

Zenith Generation mengatakan...

thanks gan...
keep supprot anime

Anonim mengatakan...

Ya, saya suka manga dan anime
saya ga berharap lebih, tapi saya harap suatu hari nanti pemikiran orang- orang indonesia bisa sedikit berubah tentang topik ini

Anonim mengatakan...

Saya juga setuju. Saya memang pencinta anime, tapi saya bilang anime lebih bagus dari sinetron bukan karena saya suka! Saya pikir moral2 di anime lebih terlihat dibanding sinetron. Bahkan, cerita romance di anime aja jarang banget nampilin cewek-cewek ala lemas-lemas yg gak bisa jaga diri sendiri dan buntutin pacar. Kadang-kadang capek nonton sinetron, cewek-ceweknya cuma bisa dandan sama rebutin cowok, daripada kayak gitu lebih keren cewek yang punya target individual dong! (nonton SAO sama Maid- sama biar ngerti)

Kang Mas Brow Kasroi mengatakan...

Injin nyimak gan,topikny mnarik n hrus disebarin, biar KPI lbih kritis + cerdas dlam nayangin acara untk anak2...

Poskan Komentar

jangan lupa komennya ya..